Wilayah di Indonesia yang Ceweknya Lebih Banyak dari Cowoknya

 



Kalau kamu merasa kesulitan mencari pasangan hidup, jangan buru-buru melirik ke luar negeri. Coba deh tengok di dalam negeri sendiri. Secara statistik, ada beberapa daerah di Indonesia yang ternyata populasi perempuannya lebih banyak daripada laki-lakinya, dengan perbedaan yang lumayan berjarak.

Mari kita ambil sampel dari 5 daerah yang sangat menarik untuk diamati: Sumatra Barat, Bali, Sulawesi Selatan, Sumatra Utara, dan DI Yogyakarta. Dari kelimanya, ada dua daerah yang rasio gender populasi totalnya konsisten berada di bawah angka 100 (perempuan lebih banyak), yaitu Sulawesi Selatan (~99) dan DI Yogyakarta (~98). Bali bergerak makin turun mendekati angka 100, sementara Sumatra Utara dan Sumatra Barat sempat menyentuh angka di bawah 100 pada periode-periode tertentu.

Memahami Arti Angka Rasio Gender

Sebenarnya, apa sih arti angka-angka itu?

Dalam dunia statistik kependudukan, angka tersebut mewakili Rasio Jenis Kelamin (Sex Ratio), yaitu rumus perbandingan untuk menghitung berapa jumlah laki-laki di antara 100 perempuan.

  • Lebih dari 100: Jumlah laki-laki lebih banyak dari perempuan.

  • Tepat 100: Jumlah laki-laki dan perempuan seimbang (1:1).

  • Di bawah 100: Jumlah perempuan lebih banyak daripada laki-laki.

Secara rata-rata nasional, rasio populasi biasanya seimbang berada di rentang 99 hingga 101. Namun, kalau kita membedah data berdasarkan kelompok usia saat lahir (kelompok umur 0–4 tahun), kelahiran bayi laki-laki secara alami selalu lebih banyak.

Untuk ke-5 daerah tersebut, rasio pada kelompok usia balita (0–4 tahun) kompak berada di atas angka 100:

  • Bali: ~106–107

  • Sumatra Utara: ~105–106

  • Sumatra Barat: ~105–106

  • DI Yogyakarta: ~105

  • Sulawesi Selatan: ~104–105

Mengapa Angka Rasionya Makin Turun Seiring Usia?

Lalu, apa yang membuat angka rasio jenis kelamin ini terus merosot seiring bertambahnya umur?

Secara biologis dan alamiah, laki-laki memiliki harapan hidup yang secara statistik sedikit lebih pendek. Penyebabnya beragam, mulai dari faktor risiko pekerjaan yang berat, gaya hidup, hingga tingkat stres yang dialami.

Dampaknya terlihat sangat jelas ketika kita menengok kelompok usia lanjut (di atas 65 tahun). Di seluruh wilayah tersebut, proporsinya langsung berbalik tajam menjadi jauh lebih banyak perempuan:

  • DI Yogyakarta (65+): ~75–80 (Hanya ada 75–80 pria per 100 wanita)

  • Sumatra Barat (65+): ~85–90

  • Sumatra Utara (65+): ~85–90

  • Sulawesi Selatan (65+): ~85–88

  • Bali (65+): ~88–90

Faktor Migrasi, Kesehatan, dan Efek Pandemi

Secara logika, jika kita tidak memilah kelompok umur, angka rata-rata total populasi mestinya relatif seimbang. Namun, angka ini bisa bergeser turun (perempuan menjadi lebih banyak) apabila terjadi fenomena migrasi pria keluar daerah untuk bekerja.

Fenomena ini terlihat sangat dinamis di Sumatra Utara, Sumatra Barat dan Sulawesi Selatan. Sebelum pandemi Covid-19, fenomena pria muda yang merantau ke luar daerah membuat proporsi perempuan di sana menjadi lebih mendominasi. Namun pasca-pandemi, tren arus balik terjadi; banyak pria merantau yang akhirnya memilih kembali dan menetap di kampung halaman, sehingga angkanya perlahan terkoreksi kembali mendekati seimbang (~101-99).

Sebaliknya, mari kita lihat Bali. Suku Bali dikenal secara kultural cukup kuat bertahan di tanah kelahirannya dan tergolong jarang merantau keluar pulau secara masif. Angka totalnya yang cenderung landai turun mendekati 100 umumnya bukan dikarenakan migrasi keluar, melainkan karena perbedaan angka harapan hidup pada kelompok usia tua. Jurang perbandingan laki-laki dan perempuan pada kelompok umur 65+ tahun di Bali tergolong makin membesar seiring membaiknya kualitas layanan kesehatan.

Fenomena Unik DI Yogyakarta: Dominasi Kartini Muda

Di antara semua daerah, perbandingan gender di DI Yogyakarta adalah yang paling menarik untuk dikaji.

Laki-laki asli Yogya pada dasarnya tidak dikenal sebagai kelompok yang gemar merantau meninggalkan daerahnya. Tapi secara konsisten, rasio gender total di Yogya dari tahun ke tahun selalu bertengger di bawah angka 100 (berkisar di angka 98 laki-laki per 100 perempuan).

Memang benar, kelompok usia lanjut di Yogya tercatat jauh lebih sehat dengan Angka Harapan Hidup (AHH) perempuan yang merupakan salah satu yang tertinggi di Indonesia (mencapai rentang 77 tahun). Namun, faktor pendorongnya ternyata tidak cuma datang dari nenek-nenek berumur panjang.

Yogya yang sangat tersohor sebagai Kota Pelajar menerima ratusan ribu putra-putri dari seluruh penjuru Indonesia yang datang untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi. Menariknya, proporsi pelajar/mahasiswa perempuan yang datang ke Yogya ternyata berjumlah lebih banyak dibanding mahasiswa laki-laki. Menurut data basis data pendidikan tinggi (PDDikti) dan BPS, porsi mahasiswi aktif di perguruan tinggi Yogyakarta kini telah menembus angka lebih dari 52% hingga 54% dari total populasi mahasiswa.

Biasanya, para orang tua cenderung protektif dan berat hati jika harus melepas anak gadisnya pergi merantau jauh dari rumah. Namun, karena Yogyakarta sudah sejak lama membangun reputasi sebagai kota yang aman, nyaman, berbudaya, dan ramah, para orang tua tidak ragu untuk memberikan izin anak perempuannya menimba ilmu di sana.

Kombinasi antara tingginya usia harapan hidup wanita lokal dan membanjirnya mahasiswi pendatang inilah yang pada akhirnya membuat angka perbandingan jumlah laki-laki dan perempuan di Yogyakarta menjadi yang paling timpang dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia.


Catatan: data interaktif bisa dilihat di sini: https://www.denip.my.id/p/grafik-kependudukan.html

Komentar