Biaya Murah, Risiko Tinggi: Potret Keselamatan Laut Indonesia


Indonesia adalah negeri kepulauan. Jutaan orang setiap tahun bergantung pada kapal feri untuk menyeberang antar‑pulau dengan biaya yang jauh lebih murah dibanding pesawat. Tapi di balik harga tiket yang ramah kantong, moda ini menyimpan risiko keselamatan yang tinggi.

Sepuluh Tragedi Kapal Feri dalam Satu Dekade (2016–2026)

Dalam 10 tahun terakhir, 787 orang meninggal akibat kecelakaan kapal feri. Berikut 10 insiden besar yang paling banyak menyita perhatian:

  1. KMP Rafelia II – 2016 (Selat Bali) → tenggelam karena kelebihan muatan, korban tewas ±6 orang.    “Kapal ini jelas kelebihan muatan, dan SOP keselamatan tidak dijalankan dengan baik,” ujar Capt. Bambang, Kepala Syahbandar Gilimanuk (2016).
  2. KMP Sinar Bangun – 2018 (Danau Toba) → tenggelam, korban jiwa ±192 orang. “Tragedi ini membuka mata kita bahwa pengawasan di danau sama pentingnya dengan laut,” kata KNKT Ketua Soerjanto Tjahjono (2018)
  3. KMP Dharma Kencana II – 2019 (Semarang–Pontianak) → kebakaran di ruang mesin, korban tewas ±14 orang.
  4. KMP Dharma Rucitra – 2020 (Surabaya) → kebakaran di pelabuhan, korban tewas ±1 orang.
  5. KMP Yunicee – 2021 (Gilimanuk) → tenggelam, korban tewas ±11 orang.“Saya masih ingat jeritan orang‑orang di gelap malam itu, kami hanya bisa berenang seadanya,” kenang Made, penumpang selamat (2021).
  6. KMP Nusa Jaya Abadi – 2022 (Kupang) → kebakaran di ruang mesin, korban tewas ±3 orang.
  7. KMP Express Cantika 77 – 2023 (Kupang–Alor) → kebakaran besar, korban tewas ±20 orang.“Api menjalar begitu cepat, kami panik karena pintu evakuasi macet,” cerita Yuliana, penumpang selamat (2023).
  8. KMP Tunu Pratama Jaya – 2025 (Selat Bali) → blackout mesin memicu kebakaran, korban tewas ±7 orang.
  9. KM Barcelona V-A – 2025 (Minahasa) → kebakaran di ruang mesin, korban tewas ±2 orang.
  10. KM Mutiara Sentosa II – 2026 (Madura) → kebakaran di ruang kendaraan, korban tewas 5 orang.


Perbandingan dengan Moda Lain


Dari tabel bisa terlihat bahwa Pesawat dan kereta api jauh lebih aman.. Bus antar kota punya korban absolut lebih tinggi, tapi karena penumpangnya sangat besar, persentase korban tetap rendah.. Kapal feri paling berbahaya: insiden besar bisa menelan ratusan korban sekaligus.


Fatality Rate: Mengukur Risiko Nyata

Fatality rate dihitung dari jumlah korban jiwa dibanding total jarak tempuh semua penumpang (passenger‑kilometer).

  • Kapal feri: 0,25–0,30 korban per miliar km → paling tinggi.
  • Pesawat: 0,01–0,02 → paling aman.
  • Kereta: 0,05–0,07 → relatif aman.
  • Bus: 0,10–0,15 → sedang.


Dampak Kecelakaan Terhadap Biaya Operasional

Kecelakaan kapal feri berdampak langsung pada industri asuransi dan harga tiket:

  • Asuransi kapal → klaim besar setiap kali kapal terbakar atau tenggelam.
  • Asuransi muatan → kendaraan dan barang ikut terbakar, klaim melonjak.
  • Asuransi penumpang → santunan Jasa Raharja relatif kecil dibanding kerugian keluarga korban.
  • Premi naik: perusahaan asuransi menaikkan tarif untuk kapal tua dan rute berisiko tinggi.
  • Tiket kapal: meski tetap murah, operator terbebani biaya tambahan akibat premi tinggi dan klaim sulit cair.

Dengan wilayah laut yang jauh lebih luas daripada daratan, Indonesia seharusnya tidak hanya menyeberangi laut — tapi menaklukkannya. Laut adalah urat nadi bangsa ini, sumber daya yang tak ternilai dan jalur penghubung dari Sabang sampai Merauke.

Sudah saatnya pemerintah melihat laut bukan sekadar ruang transportasi murah, melainkan ruang strategis yang menentukan masa depan ekonomi dan keselamatan rakyat. Perbaikan sistem pelayaran, pengawasan kapal, dan pendidikan maritim harus menjadi prioritas nasional.

Jika langkah ini dijalankan dengan sungguh‑sungguh, Indonesia bisa kembali menjadi bangsa pelaut sejati, seperti nenek moyangnya yang mengarungi samudra dengan keberanian dan kebijaksanaan. Laut bukan lagi ancaman, melainkan kekuatan yang menyatukan negeri kepulauan ini.


Komentar